Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Cerpen. Tampilkan semua postingan

SEPENGGAL CERPEN YANG AKAN DIBUKUKAN

Label:


Pagi hari nan cerah, terjadilah sebuah dialog unik via telepon antar kakak beradik yang disinyalir keras sebagai pentolan aktivis dakwah. Mereka berdua sangat akrab, terlebih kalo sudah urusan ngobrol. Pastinya nggak ada yang bisa memberhentikan mereka. Kalo sudah “perang” mulut, tak ada yang mau ngalah. Kedua-duanya bersikukuh untuk menjadi pemenang sekaligus menjaga image masing-masing. Waktu itu HP sang adik dari meja belajarnya bersuara lantang. Pertanda ada panggilan masuk. Ia pun segera mengangkat dan…
“Assalamu’alaikum, Dik,” ucap suara yang ada di seberang.
“Wa’alaikumsalam Kak, tumben nih nelepon. Pasti ada maunya?” jawab sang adik penuh curiga yang ternyata suara di seberang itu adalah suara kakaknya.
“Iya... iya... Dik, kakak ada maunya. Ngomong-ngomong Gimana kabarnya nih?”
“Alhamdulillah khoir, Kak. Kakak sendiri gimana?”
“Luar biasa Alhamdulillah sehat wal’afiat. Kalau kabar abi dan umi?”
“Alhamdulillah juga baik, Kak.”
“Oo ya gimana kuliahnya lancar?”
“Sip masih lancar kok, tapi…”
“Oo kakak tahu, tapi... masalah uang bulanan kan? Hehe. Sip deh, uang bulanan kamu segera Kakak transfer lebih cepat daripada biasanya.”
“Horeeeee....” senang sang adik sambil loncat-loncat.
“Eits tunggu dulu, tapi ada syaratnya,” lanjut sang kakak.
“Lho kok pakai syarat segala, Kak? Kayak kartu prabayar aja, hehe.”
“Ya iya dong. Syaratnya gampang kok.”
“Oke deh. Apaan Kak, buruan!!!”
“Gini lo, Kakak kan sudah 25 tahun nih, tahu kan Nabi Muhammad sendiri nikah saat umur 25 tahun, so kakak pengen....”
“Hahaha, Ana tahu, pasti pengen carikan pendamping hidup kan? Yang gimana kriterianya, yang 40 tahunan kayak Siti Khadijah yak,” tawa Sang Adik membahana.
“Mmm, jangan deh, hehe. Kalo urusan umur yang sudah uzur Kakak nggak mau nyoba dulu, ada alternatif lain?”
“Oo gitu ya, loh-loh tunggu dulu, emang target yang kemarin gimana, Kak?”
“Akhwatnya masih belum bisa dulu katanya, masih mau nyelesaiin skripsi. Kira-kira 1 tahun lagi, baru bisa. Kalau nunggu 1 tahun lagi kan kelamaan, pengen yang cepat aja, Dik. Express, biar nggak jatuh ke zina.”
“Oo gitu toh, kalau teman Ana sih banyak. Mau cari yang kayak siapa?”
“Yang kayak Agnes Monica, ada?”
“Huwaaa, Ana bilangin sama abi lo kalo cari yang nggak pake jilbab.”
“Hehe, becanda Dik, yang kayak Mba Asma Nadia aja, boleh kan?”
“Haaahh? Mba Asma Nadia?” mata Sang Adik membundar, kaget setengah hidup. Untung sang kakak tidak melihat ekspresinya waktu itu.
“Ada Kak, tapi masih mau ngerampungin bukunya dulu. Katanya sih 1 tahun lagi baru selesai, hehe,” lanjut sang adik cekikikan mirip suara kuntilanak.
“Ya sudah, kalo memang nggak ada juga, ya minimal yang kayak Kakak telepon ini aja akhwatnya, kan lumayan sholehah,” ucap Sang kakak memuji.
“Apppa? Woii insyaf Kak, ini kan zaman orde baru, kita kan saudara kandung.”
“Duileee marah, kan kata kakak minimal. Bukan berarti adik sendiri yang diembat. Dosa tahu.”
“Kalo yang seperti Ana sih, nggak ada. Limited edition, coba cari aja di pasar loak, pasti nggak dapat,” sang adik mulai melawan dan narsis.
“Yaaah, kok gitu, Dik. Padahalkan kamu satu-satunya mak comblang yang bisa diharapkan. Kakak menyerahkan semuanya padamu, Dik. Pernah waktu itu teman kerja kakak nawarin diri untuk nyariin satu akhwat. Tapi, kakak tolak mentah-mentah tawarannya. Kakak selalu bilang, “Terimakasih ya, Ana sudah punya mak comblang yang setia, dia adalah adik Ana sendiri, gitu.”
Sang Adik terdiam kemudian sambil menarik nafasnya dalam-dalam, ia berpikir sejenak dan berucap dalam hati, “Kira-kira yang kayak gimana ya kriteria akhwat unuk Kakak Ana ini. Susah juga carinya.”
“Kok diam, Dik? Lagi  ngaca ya, ngelihatin wajah sendiri. Eits, kakak nggak menomorsatukan kecantikan kok, jelek juga nggak papa, tapi tolong, jangan terlalu jelek-jelek amat ya. Masa tega sama kakak sendiri. Kan ceritanya mau memperbaiki keturanan.”
“Oo iya kak, hoho. Gampang deh, pokoknya yang serasi. Kakak kan ganteng, berarti harus cari yang cantik. Hueks.”
“Apa, Dik? Coba ulang sekali lagi kata-katamu yang terakhir tadi?”
“Kakak kan ganteng, berarti harus cari yang cantik. Hueks.”
“Kok ada hueksnya segala. Tapi, Alhamdulillah baru kali ini ada orang yang bilang kalo Kakak ganteng, hihi. Meskipun masih ada embel-embel hueksnya di belakang. No problem.”
“Yeee... Dasar nih punya kakak ikhwan pede banget,” ucap sang adik agak gondok.
“Nah, ya sudah, buruan cariin ya. Waktunya Kakak kasih satu minggu, oke. Ingat satu minggu, kalo lewat dari itu. Anggap aja tidak ada pencairan dana perkuliahan untuk sementara waktu, haha,” ancam sang kakak.
“Wah Kakak tegaaa. Bilangin sama abi lo entar.”
Tuuut... Tuuut... Tuut... Telepon terputus untuk sementara waktu karena ada gangguan jaringan (pikir penulis). Sesaat kemudian pembicaraan berlanjut kembali.
“Loh kok dimatiin, Dik? Kamu marah ya?” tanya sang kakak.
“Nggak Kak. Tadi nggak sengaja tepencet, hehe.”
“Oo gitu toh. Eh ngomong-ngomong Kakak sudah bisa lo ngangkat galon isi air ulang sendirian ke dispenser.”
“Lha apa hubungannya, ceritanya sudah jago gitu ya, jadi militan? Huuuh gitu aja pamer, emang sudah siap ditransfer ke Afghanistan atau Palestina?”
“Nah, itu dia. Belum, Dik. Hoho.”
“Eh kelupaan, jenggot Kakak sudah agak panjangan lo,” lanjut sang kakak lagi-lagi pamer fisik.
Gubrak!!! (Suatu adegan di mana sang pendengar atau lawan bicara jatuh ke lantai).
“Apa hubungannya, Kak. Ngangkat galon isi ulang air sama jenggot? Mau jadi artis biar dicari-cari sama densus 88 itu ya alias teroris!”
“Haha, kamu bisa aja. Kalau sudah jenggotan, berarti kan kakak sudah ngamalkan sunah nabi.”
Tiba-tiba sang adik nyerang balik dengan mengganti topik, “Eh Kak, tapi kalo entar Ana yang nikah duluan gimana? Boleh?”
“Wah-wah serius nih, silakan aja, Kakak setuju aja sih. Biar kamu cepat dewasanya. Tapi tunggu dulu, emang sudah ada calonnya? Hehe. Terus kalaupun ada, tuh calon memang mau ya sama kamu?” ledek sang kakak.
“Alhamdulillah pasti mau kok, tapi beneran nih Kak diizinin?” tanya kembali sang adik.
“Silakan aja, nggak ada yang ngelarang ko. Asal abi setuju aja. Selain itu  Kakak bakalan berembuk sama abi, nyusun strategi jitu untuk nyiapin beberapa pertanyaan interview untuk calon kamu, kalau bisa setelah interview sih ada tes tertulis dan tes psikologinya, haha.”
“Haaah? Masa ngelamar Ana, kayak ngelamar pekerjaan aja? Oke. Baiklah, asalkan pertanyaannya nanti jangan susah-susah ya. Kan kasihan kalo dianya nggak bisa jawab. Entar ujung-ujungnya adik Kakak yang cantik ini sendiri yang nggak nikah-nikah.”
“Halaaah nggak usah khawatir, sampai kamu berumur 40 tahun juga masih laku kok, cekakak.”
“Dasar Kakak yang jahat! Nggak mau ngelihat adiknya bahagia.”
”Eh... Eh... Becanda kok. Oo ya sudah lama kita nggak ngobrol kayak gini ya?”
“Iya kak, kapan nih pulang ke Jakarta?” tanya sang adik.
“Insya Alloh setelah proyek Kakak selesai, doakan ya, Dik.”
            “So pasti dong Kak, asal uang bulanan ngalir terus ke bank Ana, hehe.”
“Ya sudah, jangan lupa sama janjinya yang tadi. Carikan satu akhwat saja, jangan banyak-banyak. Entar Kakak nggak bisa adil. Hoho.”
“Hedeeeh, iya Kak, Insya Alloh. Nanti kalau sudah dapat, Ana telepon atau sms.”
“Wah, thanks berat ya, Dik. Ya sudah, mohon maaf kalau ada kata-kata kakak yang salah. Kakak pamit dulu, Assalamu’alaikum.”
“Iya Kak, sama-sama, Ana minta maaf juga ya. Wa’alaikumsalam.”
Oke, itulah obrolan singkat via telepon yang sampai berdurasi kurang lebih sekian-sekian menit antara kakak beradik yang bertemakan pencarian jodoh. Dan tentu teleponannya nggak gratis ya, soalnya dari kota Bandung ke Kota Jakarta.

Nah, mau tahu kisah selanjutnya? Beli aja buku antologinya nanti pas sudah keluar... Dijamin seruuuu. Insya Alloh =) 
~Muhammad Ery Zulfian~

TERLAMBAT MENGKHITBAH

Label:

 
“Himmah!!” panggil Shofwan dengan nada tegas. Alhamdulillah wisuda ku hari ini lancar, kebetulan ada sedikit rezeki, hari ini kita makan yuk?

“Wah syukur deh, mau makan dimana? Terserah antum ya, kan antum yang ngajak. Hehe,” setuju Himmah dengan sedikit tertawa lepas.

“Kita ke depot soto aja, di sana kan ada Kang Rudi, mantan ketua organisasi Islam di kampus ana dulu, sekaligus silaturahim,” ucap Shofwan dengan mantap.

“Oke deh, ana nurut sama yang udah dapat gelar S-1 aja,” canda Himmah lagi.

Mereka berdua memang sahabat akrab, Shofwan seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran sedangkan Himmah mahasiswa Fakultas MIPA. Mereka kenal sejak semester satu lalu, ketika ada kegiatan oleh lembaga dakwah kampus.

Ketika sampai di depot, mereka langsung disapa oleh Kang Rudi dan langsung pesan masing-masing soto ayam plus es teh.

“Wah tumben kemari, ada yang ulang tahun ya?” canda Kang Rudi.

“Wah gak kok Kang, ini Shofwan ngajak makan, barusan beliau baru wisuda,” ucap Himmah sambil ngelirik ke arah Shofwan.

“Alhamdulillah, selamat ya Akh. Oo ya katanya antum mau nikah setelah lulus ini kan?” tanya Kang Rudi dengan sedikit candaan.

“Duh jadi malu Kang. Doakan aja ya semoga lancar,” pinta Shofwan.

“Wah antum tega Akh, kok gak pernah bilang ke ana siapa calonnya, kita kan sohib,” ucap Himmah penasaran.

“Tenang saja Insya Allah antum bakalan tahu juga kok,” rahasia Shofwan.

Himmah langsung ingat dengan salah satu akhwat yang ia sukai dan ingin ia khitbah layaknya Shofwan yang tinggal menunggu waktu saja.

“Jangan lupa tuh tetap selalu jaga hatimu buat dia,” pesan Kang Rudi.

“Iya Kang syukron. Akang sendiri kapan nih?” tanya Shofwan.

“Wah nanti lah, setelah jualan soto ini mulai berkembang pesat, baru rencanain ke walimahan, hehe,” jawab Kang Rudi dengan senyum yang khas.

“Kang kami sambil makan ya?” tawar Himmah.

“Iya tafadhol,” ucap Akang.

Himmah mulai terbayang untuk mengikuti jejak Shofwan, ia mulai mengingat kembali wajah sang akhwat, siapa lagi kalau bukan Nida. ”Jikalau aku sudah siap, Insya Allah aku akan mengkhitbahnya,” ucapnya dalam hati.

Lamunan Himmah terhenti sejenak, ”Kenapa antum Him? Kok melamun? Insya Allah ana nikahnya Hari Jumat depan dan walimahannya hari minggu, datang ya?” pinta Shofwan kepada Himmah dan Kang Rudi.

“Iya Shof, Insya Allah,” jawab mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, saat hari H tiba. Himmah yang sedari tadi melihat keadaan mesjid terasa iri dengan sahabat sejatinya itu dan setibanya di dalam Himmah duduk dengan tenang. Penghulu pun mulai mengucapkan akad nikah dan ketika itu sang bapak wali dari sang mempelai wanita mengucapkan, “Saya nikahkan anak Saya Nida Rhimma Auliya Binti Muhammad Nuh….”

Himmah tesentak kaget. Ia mulai mencari sosok akhwat yang mempunyai nama indah itu. Ia pun langsung terdiam dan terasa lemah. Sebenarnya akhwat itu adalah pilihan yang akan ia khitbah nanti lewat murabbinya. Ia langsung keluar menuju kamar mandi Mesjid. Di cermin ia lihat wajahnya dengan tetesan air mata, “Kenapa aku jadi menangis, Ya Robb pilihanku sudah diambil oleh sahabatku. Aku tak tahu sebelumnya. Aku tidak boleh kalah oleh perasaan, tapi kenapa takdir ini begitu cepat rasanya. Apa aku harus rela?”

Dua hari kemudian, tepatnya di acara Walimah Arsy, Himmah memenuhi undangan sahabatnya, ia merasa iri dengan Shofwan. Akhwat yang ia inginkan sudah menjadi milik Shofwan, Nida adalah seorang akhwat yang alim, cerdas, bijaksana dan memiliki jiwa keibuan yang luar biasa. Indah bila dipandang.

Himmah hanya bisa berjalan dengan senyum khasnya ke arah kedua mempelai untuk mengucapkan selamat. Ia merasa keterlambatannya untuk mengkhitbah Nida bukan kesalahan, ia pasrah karena semua sudah takdir dari-Nya. Ia tidak mau larut dalam kesedihan. Semua pasti ada hikmahnya dan ada yang lebih baik untuk dirinya kelak. Himmah pun tak merasa dirinya tertinggal, ia terus berikhtiar dan berdoa untuk mendapatkan seorang bidadari yang lebih baik.

Muhammad Ery Zulfian  
(Cerpen ini terbit di SERAMBI UMMAH, JUMAT 03 DESEMBER 2010)

HADIAH YANG TERTUNDA

Label:

Suara azan subuh menggema, memecah keheningan nikamatnya peraduan alam. Tak ingin ku meninggalkan sholat berjamaah di Mesjid. Ku langkahkan dengan Bismillah. Ku niatkan dengan ikhlas. Setiba di mesjid tak lupa sholat sunat fajar ku laksanakan lalu semua insan yang terbangun menyembah Sang Pencipta dengan keindahan Subuh yang agung.

“Assalamu’alaikum,” ucapku.
“Wa’alaikumsalam,” jawab ibu dengan senyum yang tulus.
“Ibu, Dika mau berangkat kuliah dulu, tadi subuh sudah Dika kukusin rotinya, tinggal dikasih plastik saja.”
“Iya terimakasih ya, Nak. Maaf Ibu merepotin kamu terus, hati-hati dijalan ya!”

Tiba di koridor kampus, masya Allah. Braakkkk… Tak sengaja ku tabrak seseorang yang muncul berlawanan arah dari ruang baca.

Aku hanya terdiam dan berpikir untuk urusan ini mungkin nanti saja, daripada aku terkena sambaran dosen paling killer di kampus. Ku ambil jarak, ku luangkan mulut untuk meminta maaf dan langsung saja langkah seribu ku ambil. Tepat di depan ruang kelas, ku ketok pintu dan ucapkan salam.

“Maaf Pak Saya terlambat,” ucapku ngos-ngosan.
“Tidak ada kata terlambat, lebih baik tidak usah kuliah, masih angkatan pertama belagunya minta ampun. Satu kali lagi kamu terlambat, nilai kamu langsung E,” ucap sang dosen dengan keras.

Aku tertunduk lesu. Tiga kali berturut-turut Aku sudah terlambat dan tidak mengikuti mata kuliah Fisika Dasar, alasannya pun semua sama yaitu bergadang untuk menyelesaikan tugas ibu. Ibu kasihan akhir-akhir ini badan beliau kecapekan.

Siangnya Aku pergi ke pasar untuk membeli bahan adonan roti, tak sengaja Aku lihat toko kerudung di seberang jalan, tidak ada maksud untuk membeli cuman sekadar lihat-lihat. Belum lagi Aku masuk, dari luar terlihat di sana kerudung yang anggun warnanya jingga, ku lihat lebih dekat. Masya Allah harganya selangit dapat darimana uang sebanyak itu untuk membelinya. Aku teringat ibu, aku jadi ingin menghadiahkannya. Kebetulan seminggu lagi beliau berulang tahun.

7 hari kemudian, tepatnya di hari ulang tahun ibu, Alhamdulillah Aku mendapat rezeki beasiswa di kampus. Pagi itu begitu cerah aku ambil uangku di ATM. Teringat dengan kerudung yang sebelumnya ingin ku belikan dan khusus kepada ibu. Aku mulai melangkahkan kaki ku menuju toko kerudung yang dulu pernah ku singgahi.

“Assalamu’alaikum,” ucapku pada seorang penjaga toko.
“Wa’alaikumussalam,” jawabnya.
“Gini Mba, kemarin Saya lihat ada kerudung warna jingga kemerah-merahan di sini,” ucapku sambil menunjuk tata letak kerudung yang dulu pernah ku lihat.
“Oh itu Mas, sudah dibeli orang kemarin, kebetulan itu susah dicari, harganya lumayan mahal,” jawab sang penjaga toko.
Aku sedikit menyesal, padahal itu kerudung satu-satunya yang berdesign beda.
“Ahh… Coba Aku lebih cepat kemarin, pasti Ibu akan senang melihatnya,” bathinku.

Lalu hampir seluruh toko kerudung di kawasan itu ku datangi, tapi hasilnya nihil, tak ada satu pun yang menjual kerudung seperti yang ku lihat seminggu lalu.

Siang pun mulai malu, menghilang bersama nyanyian senja. Aku sedih, padahal ini adalah hadiah pertama yang rencananya ingin ku berikan kepada ibu. Saat berjalan pulang Aku melihat sebuah toko khusus muslimah di perempatan jalan. Sebelum magrib tiba Aku singgah sebentar kesana dan Alhamdulillah ternyata kerudung itu ada Namun warna yang tersisa hanya hitam gelap. Padahal Aku tak suka dengan warna hitam, sesaat timbul perasaan aneh yang mulai menyelimuti pikiran dan hatiku. Sudahlah Aku ambil saja dan kemudian menyerahkan uang kepada kasir.

Lalu aku berlari melewati jalan setapak menuju rumah. Dari kejauhan ku lihat rumahku banyak dikunjungi orang. Apa yang terjadi? aku kaget bukan kepalang, jiwaku roboh, air mataku berjatuhan, bendera berwarna hijau berkibar di depan rumah. Ya Rabb kenapa secepat ini kau ambil ibuku, padahal ini adalah hadiah pertama yang sudah ku janjikan, aku pun langsung masuk ke dalam rumah memeluk jasad ibu sambil menangis. Ku goncang tubuh ibu serasa tak puas dengan takdir-Nya. Lalu ku teriakkan sekerasnya, “Dosa apa Aku Ya Rabb, sehingga Kau ambil nyawa ibuku sebelum Aku membahagiakannya.”
*Muhammad Ery Zulfian
Terbit di Serambi Ummah, Jumat 17 Desember 2010

ARAB SAUDI ATAU MENIKAH?

Label:

Di sepertiga malam, di saat banyak orang memejamkan matanya untuk bermimpi indah, Abizar seorang mahasiswa angkatan akhir di salah satu universitas Banjarmasin bersimpuh. Kedua tanganya meminta kepada Sang Maha Cinta untuk memilih antara dua pilihan. Usai mengucapkan doa, kedua tangannya mengusap wajah yang mengeluarkan buliran air mata. Hatinya masih belum bisa memilih apakah ia menerima seorang akhwat yang kini biodatanya ada di atas meja belajar.

Seusai sholat malam barulah ia berani membuka amplop berwarna coklat yang di dalamnya itu terdapat biodata seorang gadis yang bukanlah gadis sembarangan. Ia tertunduk malu, apa benar untuknya, pantaskah ia menjadi pendamping hidup gadis itu kelak. Ia mulai ragu, soalnya belum punya pekerjaan tetap, bagaimana untuk menafkahi istri dan anaknya kelak. Apalagi ia sudah mantap selangkah lagi untuk seleksi beasiswa melanjutkan S-2 ke Arab Saudi.

Ia pun mulai membuka isi amplop dan pelan-pelan membaca pesan yang ada dilembar biodata itu. Ternyata seorang akhwat organisatoris sekaligus penulis berbakat di kampusnya namanya Ananda, adik tingkat di bawahnya 2 tahun namun berbeda jurusan. Satu hal lagi yang membuat Abizar kaget ketika membacanya, Ananda sudah mengenal ia sejak pertama kali menginjakkan kaki di dunia perkuliahan. Karena Abizar juga aktif dalam dunia penulisan terutama dalam bidang sains dan islam. Sejak itu Abizar semakin penasaran dengan Ananda.

Beberapa hari kemudian dengan sedikit keberanian Abizar pun menelpon Ananda, yang kebetulan no HP nya ia dapatkan dari biodata. Terjadilah dialog antar dua insan itu. Ananda berkata memilih Abizar karena ia seorang aktivis yang mantap ibadahnya dan satu lagi, karena Abizar juga mempunyai hobi yang sama yaitu menulis, ia sangat suka dengan tulisan-tulisan Abizar. Ketika itu Abizar bertanya, “Ana belum bekerja, bagaimana nanti kebutuhan untuk keluarga?” Ananda pun menjawab dengan santai, “Rizki itu dari Allah. Allah lah yang mengatur rizki kita masing-masing, insya Allah takkan hilang."


Abizar pun semakin bimbang antara menerima atau pergi ke Arab Saudi? Lagi-lagi istikharah ia lakukan, Ananda terkadang lebih ia impikan, sebenarnya Abizar berniat sekali untuk menerima tawaran itu namun sebuah kabar gembira menghalanginya untuk mengungkapkan niat pengumuman seleksi akhir dari beasiswa menyatakan, ia lolos dan setelah di wisuda nanti ia berhak untuk terbang ke Arab Saudi. Di dalam tidurnya pun Abizar bermimpi melihat Kakbah, tidak ada bayang-bayang Ananda.

Keesokan harinya Abizar kembali menelpon Ananda untuk memberi jawaban, “Maaf ukhty, sebenarnya ana juga punya keinginan yang sama dengan ukhty, tetapi setelah istikharah berkali-kali, mungkin ana bukan jodoh ukhty untuk kali ini, tidak tahu nantinya. Sebenarnya ana juga ingin kita bisa melaksanakan sunah Nabi itu setelah ana selesai kuliah di Arab Saudi nanti. Tapi, mungkin itu harapan yang tak masuk akal, sebab ukhti sendiri adalah akhwat yang sangat banyak dikagumi oleh ikhwan, jadi kalau nanti  ada yang melamar, baiknya diterima saja, insya Allah ia akan lebih baik dari ana.”

“Baiklah begini saja, kalau ana di posisi antum pasti ana akan bingung juga memilihnya, soalnya ilmu itu sangat penting. Jarang juga ada mahasiswa jebolan kampus kita bisa masuk perguruan tinggi Islam di Arab Saudi. Doa ana menyertai antum. Ana tidak bisa berjanji apa-apa untuk setia atau tidak, karena sampai mana umur kita nanti, siapa tahu Izrail besok menjemput ana. Tapi satu hal yang perlu antum tahu, kalau sudah pulang nanti, harap datanglah ke rumah ana. Ana cuman minta satu hal itu saja?”

Abizar pun sempat terkejut dengan jawaban itu. Serasa harapan itu masih ada, tetapi ia tak bisa berjanji, “Insya Allah ukhty”. Lagi-lagi Abizar cukup terkesima dengan hati seorang Ananda, sangat baik, sangat pengertian dan satu lagi sangat menunggu ia. Abizar hanya terdiam menatap sebuah gambar besar sebuah Kakbah di dinding kamarnya, ya di sanalah ia akan bersekolah, di Arab Saudi itulah ia akan menuntut ilmu. Tak lama lagi ia akan meninggalkan Banjarmasin dan Ananda. Ia hanya pasrah kepada Allah dan mengingat kata-kata terakhir Ananda. Dalam benak ia mencerna, “Ananda sangat mengharapkan dan menunggu ana sampai lulus nanti, Syukron.”


TERBIT DI SERAMBI UMMAH, JUMAT 19 NOVEMBER 2010

Tertulis karena selaksa rindu yang menggerogoti hati. 
MuhammaD ERY ZulfiaN